Skip to main content

Romantisme Melayu Siti Nurhaliza, Memaknai Lagu Cindai



“Duk..”…tiba-tiba hati saya tersentak ketika lamat-lamat di siang hari Ramadhan yang terik ini terdengar lagu “Cindai” yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza, biduan jelita dari Negeri Jiran, Malaysia.  Entah dari ruangan siapa lagu ini berputar, tapi langsung menarik ingatan dan kenangan akan masa muda di Bandung.  Lagu yang ditulis oleh Pak Ngah (Datuk Suhaimi Mohammad Zain) dan liriknya disusun oleh Hairul Anuar Harun ini memang indah dan Melayu bangeeeet.

Keasyikan mendengarkan lagu ini membuat saya bisa melupakan soal hingar bingar politik dengan bungkus agama yang arahnya semakin ndak jelas di Indonesia dan menghiasi halaman2 portal berita Indonesia.  Buat orang Indonesia dan sekitarnya yang sedang ada di luar negeri, mendengarkan lagu ini pasti membawa memori dan kenangan akan budaya Indonesia yang Melayu banget khususnya saat menjelang lebaran.  Padahal penulis lagu dan penyanyinya orang Malaysia yang biasanya sedikit banyak bikin keki orang Indonesia. “Tapi mereka kan saudara serumpun kita juga”, selalu menjadi alasan yang tepat bagi kita yang kadar ke-Melayuannya agak diragukan untuk bisa menikmati budaya Melayu.  Lucunya lagi, banyak orang yang hafal lirik lagu Cindai tapi tidak faham makna lagu ini.  Jujur saja, bahkan saya menulis ini pun setelah mendapat pencerahan dan merasa perlunya (sok perlu padahal sebenernya nggak perlu..haha) agar pemahaman akan makna lagu Cindai yang ternyata dalam dan menyentuh hati bisa difahami oleh orang setengah Melayu yang lain.

Lirik lagu ini disusun sebagai Pantun kiasan yang mendayu-dayu.  Hayoooo yang masih inget pelajaran Bahasa Indonesia di SD sama SMP tahun 80 an kaya saya ini mustinya belajar soal Pantun (saya gak tau apakah anak SD atau SMP sekarang di Indonesia belajar juga tentang ini).  Pantun ialah puisi Melayu lama asli dari Indonesia yang terdiri atas sampiran dan juga isi dengan rima a-b-a-b.  Pada dasarnya kata  “Pantun” tersebut berasal dari bahasa Jawa kuno yakni tuntun, yang berarti ialah mengatur atau menyusun.
Pantun merupakan sebuah karya yang tidak hanya mempunyai rima dan juga irama yang indah, tetapi juga memiliki makna yang penting. Pantun tersebut awalnya adalah karya sastra Indonesia (Melayu) lama yang diungkapkan dengan secara lisan, tetapi dengan seiring berkembangnya zaman sekarang pantun itu mulai diungkapkan dengan tertulis.

Makna lagu Cindai: Keseluruhan lagu Cindai menceritakan tentang kekecewaan seseorang yang mencoba untuk bertahan dalam menjalani kehidupannya walaupun banyak tantangan dan halangan yang harus dia hadapi.
Cindai merupakan sejenis kain yang digunakan oleh orang Melayu dulu2, (semacam kain Songket di Palembang) terutamanya yang memakai adalah kaum wanita.  Kadangkala digunakan juga sebagai senjata pertahanan oleh karena kain cindai merupakan kain yg kuat dan tidak mudah koyak karena ketebalannya berbeda daripada kain lain, jadi ia bisa digunakan sebagai senjata jika ada musuh yang mencoba menyerang dengan cara menjerat leher musuh dan dapat sedikit mengurangi akibat tusukan keris atau anak panah.
Tapi, Cindai juga dalam bahasa Melayu Palembang dan Jambi adalah sebutan untuk sebuah kiasan cinta yang bertepuk sebelah tangan seperti persamaan salah satu peribahasa bagaikan pungguk merindukan bulan.  Cindai ini dimaknai sebagai seseorang yang bersedih karena cintanya bertepuk sebelah tangan. 
Nah, sementara itu, di daerah Melayu juga dikenal sebutan Cindai sebagai hantu yang mengerikan dan tidak boleh dipandang wajahnya.
Pemaknaan terhadap kata “Cindai” itu sendiri nantinya akan memberikan warna terhadap pemahaman lirik lagu ini, khususnya di awal lagu.

Bait 1:
Cindailah mana tidak berkias
Jalinnya lalu rentah beribu
Bagailah mana hendak berhias
Cerminku retak seribu

Cindai yang dimaksud pada bait pertama adalah sebagai kain yang terjalin kuat tetapi ketika berwujud sebagai seorang yang kehilangan cinta dia menjadi manusia yang sangat berduka dan mengasingkan diri karena Cindai sebagai perwujudan hantu yang tak boleh dilihat.  Jadi dia mencoba menganggap dirinya seperti hantu karena orang lain sudah tidak memperdulikannya lagi dan dia merasa dirinya sudah mati akibat kekecewaannya. Cindai itu ataupun orang yang kecewa dan bersedih itu, mencoba untuk melupakan masalahnya dengan mencoba untuk melanjutkan hidupnya dengan bersolek atau berhias, tetapi malangnya cerminnya retak dimana cermin itu melambangkan hatinya yg hancur.

Bait 2:
Mendendam unggas liar di hutan
Jalan yang tinggal jangan berliku
Tilamku emas cadarnya intan
Berbantal lengan tidurku

Menceritakan Cindai itu walaupun seorang yang kaya, dia juga mengalami kekecewaan dalam hidupnya. Walaupun dia mempunyai tilam emas dan cadar yang terbuat dari intan, segala harta masih tidak mengatasi masalah dia dan dia hanya mampu tidur berbantalkan lengan untuk meratapi nasib.

Bait 3:
Hias cempaka kenanga tepian
Mekarnya kuntum nak idam kumbang
Puas ku jaga si bunga impian
Gugurnya sebelum berkembang

Menceritakan Cindai tersebut kecewa dengan cinta yang diberikan oleh kekasihnya.  DImana CIndai sudah mekar mengidamkan hadirnya sang kumbang hanya sayang bunga mekar yang baru hendak berputik tetapi sudah layu.  Digambarkan Cindai mengurusi bunga yang dijaga rapi setiap saat tetapi apalah daya sang bunga gugur sebelum berkembang.

Bait 4:
Hendaklah hendak hendak ku rasa
Puncaknya gunung hendak ditawan
Tidaklah tidak tidak ku daya
Tingginya tidak terlawan

Menceritakan kekecewaan Cindai tersebut yang mempunyai harapan menggunung terhadap cintanya, walaupun dia masih mencoba untuk menawan impiannya (di lagu ini menggambarkan impiannya seperti gunung) tetapi masih gagal untuk memenangi hati kekasihnya.

Bait 5:
Janganlah jangan jangan ku hiba
Derita hati jangan dikenang
Bukanlah bukan bukan ku pinta
Merajuk bukan berpanjangan

Menceritakan kisah percintaan Cindai tersebut berduka tetapi tidak mau mengenang derita yang dia hadapi.  Yang dapat dia lakukan hanyalah dengan mencoba membujuk hati nya dan hanya mampu merajuk yang berpanjangan dengan cinta hatinya.

Bait 6:
Akar beringin tidak berbatas
Cuma bersilang paut di tepi
Bidukku lilin layarnya kertas
Seberang laut berapi

Menceritakan kisah Cindai tersebut yang mencoba untuk membuat perkara yang tidak baik (bunuh diri) atau seumpamanya karena dia tahu yang dia sudah putus harapan. Atau juga cindai itu menyatakan dirinya sudah membuat keputusan yang salah yaitu mengambil risiko untuk bercinta dengan orang yang berbeda kasta atau derajat dengan dirinya.  Hal ini disebutkan dengan sebutan menaiki kapal yang dibuat dari lilin dan layarnya dari kertas (melambangkan dirinya) sementara yang akan disebrangi adalah lautan api (melambangkan kekasihnya).

Bait 7:
Gurindam lagu bergema takbir
Tiung bernyanyi pohonan jati
Bertanam tebu di pinggir bibir
Rebung berduri di hati

Cindai itu mencoba menyatakan permasalahannya.  Rupa2nya kekasihnya hanya berkata manis di bibir yaitu seperti bertanam tebu di tepi bibir sedangkan semua yg dikatakannya tidak benar dan menyakitkan hati Cindai apabila dia tahu masalah yang sesungguhnya.  Perbedaan antara manisnya ucapan dan kotornya hati ini disebutkan sebagai rebung berduri di hati yakni di hati kekasihnya.

Bait 8:
Laman memutih pawana menerpa
Langit membiru awan bertali
Bukan dirintih pada siapa
Menunggu sinarkan kembali

Akhirnya Cindai menyerah dan menyatakan dia bukan mau membuka aib seseorang seperti langit yang membiru dan dia hanya ingin menyatakan kesedihan hatinya sendiri tidak kepada siapa2 sambil berharap masa depan akan bersinar lagi atau mengharapkan ada sinar suatu hari nanti.
                                                        --oo00oo--

Keindahan pantun dan syair sebuah lagu bagi saya mencerminkan budaya penulisnya.  Indahnya pantun yang tidak sederhana ini memperlihatkan bahwa budaya Melayu merupakan budaya yang tinggi khususnya di dalam bidang seni tulis.  Tapi sayangnya semakin jaman ini berkembang, semakin sulit kita mendapati lagu dengan syair seindah ini.  Padahal, bagi saya, kedalaman pantun seperti ini yang membikin lagu Cindai justru semakin menarik didengarkan. 

Saya bilang ke Sudrun
“Maaf kalo ternyata ulasan yang diharapkan ya ternyata cuma gitu2 aja Mas…namanya tulisan asal lagi puasa..”

Sudrun bilang
“Mas, aku jadi kangen sama Siti…”

Saya tau maksudnya pasti bayarin pulsa dia supaya dia bisa video call sama Siti di kampung….

Popular posts from this blog

Aqidah Yang Tergagap

Menjelang akhir tahun 2016 saya dengan Sudrun melakukan perjalanan ke Louisville, Kentucky untuk memenuhi niat menziarahi makam salah seorang pejuang kemanusiaan dan Islam di negeri Paman Sam ini, yaitu Muhammad Ali.Di Indonesia mungkin Muhammad Ali hanya dikenal sebagai petinju legendaris, tetapi di negeri Obama yang segera menjadi negeri Trump ini, nama Muhammad Ali bukan saja bergaung sebagai seorang petinju tetapi juga berkibar sebagai panji sosok yang membela kemanusiaan, anti perang dan kebencian serta pejuang keadilan yang dapat menjadi pembela bagikaum minoritas terlebih lagi dikenal sebagai pejuang agama Islam yang moderat.  Sudrun sih ingetnya waktu SD sekolah libur kalo pertandingannya Ali disiarkan sama TVRI.
Tapi bukan ini yang menjadi inti catatan saya sekarang.Yang akan saya kisahkan adalah bagaimana kemudian saya dan Sudrun bertemu seorang kawan lama di rumahnya ketika dalam perjalanan ini.Sang kawan ini dulu sama-sama dengan saya sekolah.Ya bandel-bandel juga, malah k…

Toleransi Beragama yang diajarkan Umar Ibn Khattab RA

Yerusalem adalah kota suci bagi tiga agama besar di dunia – Islam, Yahudi, dan Kristen -.  Karena latar belakang sejarah yang panjang, ratusan atau mungkin ribuan tahun, kota ini memiliki beberapa nama Jerusalem, al-Quds, Yerushaláyim, Aelia (Umar bin Khattab menyebut dengan nama ini dalam surat perjanjiannya), dll. Semua nama tersebut mencirikan karakter dan warisan yang beragam. Kota ini juga merupakan tempat tinggal beberapa nabi, seperti: dari Nabi Sulaiman dan Nabi Daud hingga Nabi Isa ‘alaihimussalam.
Di masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pun pernah menginjakkan kaki di tanah para nabi ini. Dalam suatu perjalanan dari Mekah menuju Yerusalem, kemudian dari Yerusalem menuju Sidratul Muntaha, perjalanan ini kita kenal dengan peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Namun demikian, Yerusalem tidak pernah menjadi bagian dari negeri Islam di masa hidup Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, negeri penuh berkah tersebut baru masuk menjadi wilayah Islam pada masa Umar ib…