Sekarang ini kita sedang sering membaca dan menonton berita tentang jabatan, entah itu pelantikan jabatan Presiden dan wakilnya, para Menteri, anggota DPR, pergantian pejabat Kepolisian, TNI, Gubernur, Walikota dll...yang jelas banyak sekali pembicaraan seputar pergantian jabatan dan pejabatnya serta pro dan kontra dari orang yang mendukung dan yang menolak. Kita juga melihat perbagai polah dari para mereka yang mendapat jabatan baru dan yang kehilangan jabatannya karena memang sudah waktunya diganti ataupun karena ada kasus. Melihat orang-orang yang baru mendapat jabatan (para pejabat) kita selalu melihat keriangan dan kegembiraan, sementara yang diganti ada yang berusaha terlihat gembira tapi ada juga yang terlihat tidak ikhlas. Bahkan diantara orang yang ditunjuk menjadi pejabat (yang berkaitan dengan mengurusi masyarakat alias ummat di level yang tinggi seperti Menteri) ada yang sampai menangis bahagia dan melakukan sujud syukur saking gembiranya. Yang lain mengadakan acara selamatan dan syukuran atas anugerah jabatan yang diterimanya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas rizki dan karunia Nya. Bagus, karena Tuhan sendiri memerintahkan manusia untuk bersyukur kepadaNya bila ingin nikmatnya ditambah, dan orang yang tidak bersyukur kepada Tuhan termasuk orang-orang yang celaka. Alhamdulillah mereka masih ingat untuk bersyukur.
Tapi bukan itu yang menjadi ganjalan hati saya...
Terus terang saya suka merasa tidak sreg melihat orang yang ditunjuk sebagai pejabat lalu bersyukur luar biasa kepada Tuhan. Kita tahu cerita tentang bagaimana Umar bin Khattab r.a menangis karena takut akan pertanggung jawaban yang harus diembannya ketika ditunjuk sebagai Khalifah (bukan menangis bahagia lho..). Lalu saya jadi ingat cerita lain tentang Umar bin Khattab r.a. Cerita ini sering diceritakan oleh ayah saya waktu saya kecil dan terus membekas sampai sekarang, saya yakin yang lain sudah tahu dan pernah mendengar tentang cerita ini :
Umar bin Khattab r.a sering sekali melakukan inspeksi ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.
Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.
Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.
“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.
Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”
“Apakah ia sakit?”
“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”
Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.
Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”
Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”
Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Buat apa?”
Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”
Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”
Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.
Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”
Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”. Subhanallah.
Lalu saya jadi ingat juga cerita tentang Jenderal Sudirman yang pulang ke rumahnya di Cilacap dari Ambarawa sebelum palagan Ambarawa yang terkenal itu untuk meminta seluruh perhiasan istrinya. Ketika beliau ditanya oleh istrinya "untuk apa?", beliau menjawab bahwa perhiasan itu akan dijual untuk mendukung biaya perjuangan yang notabenenya adalah untuk membeli makanan bagi prajurit di lapangan. Seketika itu juga istri beliau malah memberikan mas kawinnya untuk dijadikan juga sebagai bantuan biaya untuk mendukung suaminya dalam berjuang.
Apa yang membedakan pejabat-pejabat seperti Umar bin Khattab atau Jenderal Sudirman dengan pejabat sekarang ?
Menurut saya perbedaannya yang paling mendasar adalah pada cara memandang jabatan. Umar bin Khattab r.a dan Jenderal Sudirman memandang jabatan adalah sebuah amanat dan tidak memandangnya sebagai sebuah rizki atau anugrah yang patut disyukuri. Sementara pejabat sekarang lebih melihat jabatan sebagai sebuah rizki (yang juga kadang-kadang sekaligus sebagai amanat).
Dengan memandang jabatan sebagai sebuah amanat, maka yang terbayang adalah rasa pertanggung jawaban yang akan dituntut baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sehingga tidak terbersit sedikitpun untuk berbuat yang menyimpang apalagi melakukan korupsi untuk kesenangan pribadi. Yang dilakukan adalah bekerja dan berupaya bahkan bila perlu hingga mengorbankan milik pribadi untuk kemaslahatan atau kebaikan masyarakat yang dipimpinnya. Tidak terbersit sedikitpun di benak mereka untuk menyenangkan diri sendiri dan keluarganya sebelum masyarakat yang dipimpinnya sejahtera dan bahagia.
Sebaliknya, memandang jabatan lebih sebagai sebuah rizki daripada sebagai sebuah amanat sangat berpotensi menimbulkan tindakan yang menyimpang. Seseorang akan merasa bahwa dia mendapat rizki sebuah jabatan atas hasil upaya dan kerja kerasnya untuk berkarir. Pemikiran seperti ini berpotensi menimbulkan rasa sombong dan takabur bahwa dia lebih baik dan pantas menduduki suatu jabatan daripada orang lain yang tidak lebih baik darinya. Yang lebih celaka lagi berpotensi juga untuk menimbulkan pemikiran aji mumpung. Mumpung lagi menjabat maka semua yang dikeluarkan dan dikerahkan untuk mencapai posisi itu harus bisa balik. Akhirnya yang dilakukan dan dipikirkan hanyalah bagaimana caranya supaya bisa balik modal. Apalagi ditambah tekanan dari istri atau saudara untuk "menolong" memenuhi keinginan yang sifatnya materi. Boro-boro mau menjalankan amanat dengan baik, lha wong yang dipikirkan hanya diri sendiri dan keluarganya saja koq....apalagi istrinya bukan semodel istri Jenderal Sudirman yang malah mengikhlaskan haknya juga untuk membantu suaminya dalam mengemban amanat.
Mudah-mudahan setelah sibuk melaksanakan syukuran para bapak-bapak yang mengemban amanat itu ingat tentang pertanggung jawaban yang akan diminta dan ingat bahwa amanat yang diembannya itu berat sehingga mereka bekerja dengan ikhlas untuk kemaslahatan masyarakat. Demikian juga untuk teman-teman saya yang sedang atau akan segera menjadi pejabat mudah-mudahan ingat bahwa kebahagiaan dan kemaslahatan anggota yang dipimpinnya merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan sebagai amanat.
Temen saya malah bilang "Saya mau nyoba masak batu deh..mumpung beras di rumah juga udah habis dan saya lagi bokek...siapa tau ada Gubernur atau Walikota yang bawain beras buat saya..."
belum tau dia....

0 comments:
Post a Comment