Skip to main content

Mencari Berkah Dalam 1 Bulan Untuk Keselamatan 1 Tahun ? Marhaban Yaa Ramadhan

Marhaban Ya Ramadhan

Akhirnya, tiba bulan yang ditunggu-tunggu oleh umat Muslim di seluruh dunia. Bulan yang penuh maghfirah dan berkah yaitu bulan suci Ramadhan. Saya tidak akan mengulas panjang lebar tentang kelebihan dan keutamaan bulan suci Ramadhan ini, karena hingga Nabi besar Muhammad SAW sendiri pernah bersabda bahwa bulan Ramadhan adalah penghulu para bulan dan waktu, waktu dimana turun ayat Al Qur’an untuk pertama kalinya untuk menunjukkan betapa mulianya bulan ini.

Telah banyak Ulama membahas dalam berbagai kitab tentang keunggulan dan keutamaan bulan ini dimana terdapat malam yang lebih mulia daripada seribu bulan yaitu malam Lailatul Qadr. Inilah bulan dimana kita melaksanakan ibadah kepada Allah lebih daripada sebelumnya, inilah bulan dimana seorang hamba Allah akan melatih dirinya untuk lebih mendekatkan diri kepadaNya, inilah bulan dimana manusia merajut ulang hubungan dengan lingkungannya dengan saling bermaafan dan memaafkan kesalahan manusia yang lain, inilah bulan dimana ketika bulan ini berakhir maka keadaan kita menjadi suci bagaikan seorang bayi yang baru lahir.





Namun, dibalik itu semua ada satu hal yang seringkali dilupakan oleh manusia kebanyakan. Sesungguhnya bulan suci Ramadhan merupakan tempat penyucian, tempat melatih, tempat dimana kita mereview kembali apa yang harus kita lakukan, apa yang harus kita perbuat dan apa yang harus kita jalani dalam kehidupan setelah bulan Ramadhan berlalu.
Saya mengambil analogi bahwa bulan suci Ramadhan adalah tempat kita bersekolah dan melatih diri (tentunya dengan segala “bonus” yang diberikan Allah agar kita menjalani bulan suci Ramadhan ini dengan semangat dan kegembiraan yang luar biasa). Sekarang apabila anda mengirimkan bawahan anda untuk mengikuti sebuah kursus atau pendidikan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas kerjanya, apakah anda hanya mengharapkan bahwa dia akan lulus dari pendidikan atau kursus tersebut dengan nilai terbaik saja namun setelah kembali ke lingkungan kerjanya dia memiliki kualitas kerja yang sama saja atau bahkan lebih jelek? Tentunya anda tidak mengharapkan hal tersebut terjadi pada bawahan anda. Anda akan mengharapkan agar bawahan anda itu dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatnya sebagai hasil kursus dan kualitas kerja serta kualitas kehidupan bawahan anda meningkat. Demikian juga seharusnya cara pandang kita dalam hal menghadapi dan menjalani bulan suci Ramadhan ini. Kita patut bersyukur bahwa Allah telah bermurah hati sedemikian rupa dengan menyediakan satu bulan sebagai tempat kita melatih diri dan belajar dengan segala kemudahan dan hadiah yang tidak dijumpai di bulan lain. Namun apa yang kita lakukan di bulan suci Ramadhan ini menjadi tidak berarti bila setelah bulan suci Ramadhan berakhir, perilaku kita tidak berubah, kualitas ibadah kita tidak berubah, bahkan bila kita tidak dapat mengendalikan diri sehingga melakukan perbuatan yang lebih jelek dari sebelumnya maka sungguh kita termasuk orang yang menyia-nyiakan rahmat Allah yang diturunkan melalui bulan suci Ramadhan ini.

Seharusnya kita menjadikan bulan suci Ramadhan sebagai tolok ukur, sebagai benchmark tentang apa yang harus kita lakukan sehari-hari setelah bulan suci Ramadhan ini berlalu. Namun pada kenyataannya justru banyak orang yang menganggap bahwa karena telah berpuasa selama bulan suci Ramadhan maka kita telah menjadi suci kembali dan bisa berbuat semaunya lagi setelah bulan suci ini lewat, toh nanti akan datang lagi bulan tempat kita “mandi” dan “bersih-bersih”. Inilah anggapan sebagian orang yang dapat kita lihat sehari-hari. Sungguh mengkhawatirkan dan menyedihkan. Karena apa gunanya kita berpuasa dan beribadah selama bulan Ramadhan apabila tidak mampu merubah perilaku kita yang buruk menjadi lebih baik setelahnya.

Marilah kita renungkan bersama, telah berapa bulan suci Ramadhan yang kita sia-siakan karena ternyata tidak membawa perubahan bagi diri kita untuk menjadi manusia yang lebih baik, untuk menjadi hamba Allah yang lebih ikhlas, untuk menjadi khalifah yang dipercaya oleh Allah menjaga alam semesta ini. Sungguh saya tidak mengharapkan diri saya dan anda yang membaca blog ini menjadi golongan manusia yang tidak bersyukur dan menyia-nyiakan rahmat Allah melalui bulan suci Ramadhan.

Mudah-mudahan Allah selalu memberikan hidayahNya pada kita semua agar dapat menjadi manusia yang selalu memperbaiki diri dalam ibadah kepadaNya dan dapat memanfaatkan momentum bulan suci Ramadhan sebagai pijakan untuk menjadi hambaNya yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Selamat menjalankan ibadah puasa.

Popular posts from this blog

Romantisme Melayu Siti Nurhaliza, Memaknai Lagu Cindai

“Duk..”…tiba-tiba hati saya tersentak ketika lamat-lamat di siang hari Ramadhan yang terik ini terdengar lagu “Cindai” yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza, biduan jelita dari Negeri Jiran, Malaysia.Entah dari ruangan siapa lagu ini berputar, tapi langsung menarik ingatan dan kenangan akan masa muda di Bandung.Lagu yang ditulis oleh Pak Ngah (Datuk Suhaimi Mohammad Zain) dan liriknya disusun oleh Hairul Anuar Harun ini memang indah dan Melayu bangeeeet.

Keasyikan mendengarkan lagu ini membuat saya bisa melupakan soal hingar bingar politik dengan bungkus agama yang arahnya semakin ndak jelas di Indonesia dan menghiasi halaman2 portal berita Indonesia.  Buat orang Indonesia dan sekitarnya yang sedang ada di luar negeri, mendengarkan lagu ini pasti membawa memori dan kenangan akan budaya Indonesia yang Melayu banget khususnya saat menjelang lebaran.Padahal penulis lagu dan penyanyinya orang Malaysia yang biasanya sedikit banyak bikin keki orang Indonesia. “Tapi mereka kan saudara serumpu…

Aqidah Yang Tergagap

Menjelang akhir tahun 2016 saya dengan Sudrun melakukan perjalanan ke Louisville, Kentucky untuk memenuhi niat menziarahi makam salah seorang pejuang kemanusiaan dan Islam di negeri Paman Sam ini, yaitu Muhammad Ali.Di Indonesia mungkin Muhammad Ali hanya dikenal sebagai petinju legendaris, tetapi di negeri Obama yang segera menjadi negeri Trump ini, nama Muhammad Ali bukan saja bergaung sebagai seorang petinju tetapi juga berkibar sebagai panji sosok yang membela kemanusiaan, anti perang dan kebencian serta pejuang keadilan yang dapat menjadi pembela bagikaum minoritas terlebih lagi dikenal sebagai pejuang agama Islam yang moderat.  Sudrun sih ingetnya waktu SD sekolah libur kalo pertandingannya Ali disiarkan sama TVRI.
Tapi bukan ini yang menjadi inti catatan saya sekarang.Yang akan saya kisahkan adalah bagaimana kemudian saya dan Sudrun bertemu seorang kawan lama di rumahnya ketika dalam perjalanan ini.Sang kawan ini dulu sama-sama dengan saya sekolah.Ya bandel-bandel juga, malah k…

Masjid Ahok

Dunia beragama dan berbangsa di Indonesia sedang diuji.  Ini gara-gara kasus dugaan penistaan agama oleh Pak Ahok yang kemudian merembet kemana-mana sampai ke halal haramnya beli roti lengkap dengan dalil naqli dan dalil aqli nya...heheh..lucu tp nggegirisi...memprihatinkan!!
Tidak lama kemudian persoalan berkembang lagi menjadi masjid.  Ini gara-garanya dalam pembelaan Pak Ahok bilang sudah membangun masjid sebagai bukti bahwa beliau ndak menghina ummat Islam bahkan memajukannya.  Terus, para pengheboh serta merta menentang masjid yang dibangun oleh orang kafir, lengkap dengan dalil dari Surat At Taubah ayat 107-110 tentang masjid yang didirikan oleh orang kafir (dalam terjemahan yang lain disebutkan orang munafiq; bukan orang kafir).