Wednesday, October 21, 2009

Jabatan

Sekarang ini kita sedang sering membaca dan menonton berita tentang jabatan, entah itu pelantikan jabatan Presiden dan wakilnya, para Menteri, anggota DPR, pergantian pejabat Kepolisian, TNI, Gubernur, Walikota dll...yang jelas banyak sekali pembicaraan seputar pergantian jabatan dan pejabatnya serta pro dan kontra dari orang yang mendukung dan yang menolak. Kita juga melihat perbagai polah dari para mereka yang mendapat jabatan baru dan yang kehilangan jabatannya karena memang sudah waktunya diganti ataupun karena ada kasus. Melihat orang-orang yang baru mendapat jabatan (para pejabat) kita selalu melihat keriangan dan kegembiraan, sementara yang diganti ada yang berusaha terlihat gembira tapi ada juga yang terlihat tidak ikhlas. Bahkan diantara orang yang ditunjuk menjadi pejabat (yang berkaitan dengan mengurusi masyarakat alias ummat di level yang tinggi seperti Menteri) ada yang sampai menangis bahagia dan melakukan sujud syukur saking gembiranya. Yang lain mengadakan acara selamatan dan syukuran atas anugerah jabatan yang diterimanya sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas rizki dan karunia Nya. Bagus, karena Tuhan sendiri memerintahkan manusia untuk bersyukur kepadaNya bila ingin nikmatnya ditambah, dan orang yang tidak bersyukur kepada Tuhan termasuk orang-orang yang celaka. Alhamdulillah mereka masih ingat untuk bersyukur.

Tapi bukan itu yang menjadi ganjalan hati saya...


Terus terang saya suka merasa tidak sreg melihat orang yang ditunjuk sebagai pejabat lalu bersyukur luar biasa kepada Tuhan. Kita tahu cerita tentang bagaimana Umar bin Khattab r.a menangis karena takut akan pertanggung jawaban yang harus diembannya ketika ditunjuk sebagai Khalifah (bukan menangis bahagia lho..). Lalu saya jadi ingat cerita lain tentang Umar bin Khattab r.a. Cerita ini sering diceritakan oleh ayah saya waktu saya kecil dan terus membekas sampai sekarang, saya yakin yang lain sudah tahu dan pernah mendengar tentang cerita ini :

Umar bin Khattab r.a sering sekali melakukan inspeksi ditemani salah seorang sahabatnya, ia masuk keluar kampung. Ini ia lakukan untuk mengetahui kehidupan rakyatnya. Umar khawatir jika ada hak-hak mereka yang belum ditunaikan oleh aparat pemerintahannya.

Malam itu pun, bersama Aslam, Khalifah Umar berada di suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi. Saat itu Khalifah terperanjat. Dari sebuah kemah yang sudah rombeng, terdengar seorang gadis kecil sedang menangis berkepanjangan. Umar bin khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu, siapa tahu penghuninya membutuhkan pertolongan mendesak.
Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul-ngepul dari panci itu, sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
Mendengar salam Umar, ibu itu mendongakan kepala seraya menjawab salam Umar. Tapi setelah itu, ia kembali pada pekerjaannya mengaduk-aduk isi panci.
“Siapakah gerangan yang menangis di dalam itu?” tanya Umar.
Dengan sedikit tak peduli, ibu itu menjawab, “Anakku….”
“Apakah ia sakit?”
“Tidak,” jawab si ibu lagi. “Ia kelaparan.”
Umar dan Aslam tertegun. Mereka masih tetap duduk di depan kemah sampai lebih dari satu jam. Gadis kecil itu masih terus menangis. Sedangkan ibunya terus mengaduk-aduk isi pancinya.
Umar tidak habis pikir, apa yang sedang dimasak oleh ibu tua itu? Sudah begitu lama tapi belum juga matang. Karena tak tahan, akhirnya Umar berkata, “Apa yang sedang kau masak, hai Ibu? Kenapa tidak matang-matang juga masakanmu itu?”
Ibu itu menoleh dan menjawab, “Hmmm, kau lihatlah sendiri!”
Umar dan Aslam segera menjenguk ke dalam panci tersebut. Alangkah kagetnya ketika mereka melihat apa yang ada di dalam panci tersebut. Sambil masih terbelalak tak percaya, Umar berteriak, “Apakah kau memasak batu?”
Perempuan itu menjawab dengan menganggukkan kepala.
“Buat apa?”
Dengan suara lirih, perempuan itu kembali bersuara menjawab pertanyaan Umar, “Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi belum. Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak dari pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rejeki. Namun ternyata tidak. Sesudah magrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut yang kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku, dengan harapan ia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar ia bangun dan menangis minta makan.”
Ibu itu diam sejenak. Kemudian ia melanjutkan, “Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya.”
Mendengar penuturan si Ibu seperti itu, Aslam akan menegur perempuan itu. Namun Umar sempat mencegah. Dengan air mata berlinang ia bangkit dan mengajak Aslam cepat-cepat pulang ke Madinah. Tanpa istirahat lagi, Umar segera memikul gandum di punggungnya, untuk diberikan kepada janda tua yang sengsara itu.
Karena Umar bin Khattab terlihat keletihan, Aslam berkata, “Wahai Amirul Mukminin, biarlah aku saya yang memikul karung itu….”
Dengan wajah merah padam, Umar menjawab sebat, “Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Engkau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau kira engkau akan mau memikul beban di pundakku ini di hari pembalasan kelak?”. Subhanallah.

Lalu saya jadi ingat juga cerita tentang Jenderal Sudirman yang pulang ke rumahnya di Cilacap dari Ambarawa sebelum palagan Ambarawa yang terkenal itu untuk meminta seluruh perhiasan istrinya. Ketika beliau ditanya oleh istrinya "untuk apa?", beliau menjawab bahwa perhiasan itu akan dijual untuk mendukung biaya perjuangan yang notabenenya adalah untuk membeli makanan bagi prajurit di lapangan. Seketika itu juga istri beliau malah memberikan mas kawinnya untuk dijadikan juga sebagai bantuan biaya untuk mendukung suaminya dalam berjuang.

Apa yang membedakan pejabat-pejabat seperti Umar bin Khattab atau Jenderal Sudirman dengan pejabat sekarang ?

Menurut saya perbedaannya yang paling mendasar adalah pada cara memandang jabatan. Umar bin Khattab r.a dan Jenderal Sudirman memandang jabatan adalah sebuah amanat dan tidak memandangnya sebagai sebuah rizki atau anugrah yang patut disyukuri. Sementara pejabat sekarang lebih melihat jabatan sebagai sebuah rizki (yang juga kadang-kadang sekaligus sebagai amanat).
Dengan memandang jabatan sebagai sebuah amanat, maka yang terbayang adalah rasa pertanggung jawaban yang akan dituntut baik di dunia maupun di akhirat nanti. Sehingga tidak terbersit sedikitpun untuk berbuat yang menyimpang apalagi melakukan korupsi untuk kesenangan pribadi. Yang dilakukan adalah bekerja dan berupaya bahkan bila perlu hingga mengorbankan milik pribadi untuk kemaslahatan atau kebaikan masyarakat yang dipimpinnya. Tidak terbersit sedikitpun di benak mereka untuk menyenangkan diri sendiri dan keluarganya sebelum masyarakat yang dipimpinnya sejahtera dan bahagia.
Sebaliknya, memandang jabatan lebih sebagai sebuah rizki daripada sebagai sebuah amanat sangat berpotensi menimbulkan tindakan yang menyimpang. Seseorang akan merasa bahwa dia mendapat rizki sebuah jabatan atas hasil upaya dan kerja kerasnya untuk berkarir. Pemikiran seperti ini berpotensi menimbulkan rasa sombong dan takabur bahwa dia lebih baik dan pantas menduduki suatu jabatan daripada orang lain yang tidak lebih baik darinya. Yang lebih celaka lagi berpotensi juga untuk menimbulkan pemikiran aji mumpung. Mumpung lagi menjabat maka semua yang dikeluarkan dan dikerahkan untuk mencapai posisi itu harus bisa balik. Akhirnya yang dilakukan dan dipikirkan hanyalah bagaimana caranya supaya bisa balik modal. Apalagi ditambah tekanan dari istri atau saudara untuk "menolong" memenuhi keinginan yang sifatnya materi. Boro-boro mau menjalankan amanat dengan baik, lha wong yang dipikirkan hanya diri sendiri dan keluarganya saja koq....apalagi istrinya bukan semodel istri Jenderal Sudirman yang malah mengikhlaskan haknya juga untuk membantu suaminya dalam mengemban amanat.

Mudah-mudahan setelah sibuk melaksanakan syukuran para bapak-bapak yang mengemban amanat itu ingat tentang pertanggung jawaban yang akan diminta dan ingat bahwa amanat yang diembannya itu berat sehingga mereka bekerja dengan ikhlas untuk kemaslahatan masyarakat. Demikian juga untuk teman-teman saya yang sedang atau akan segera menjadi pejabat mudah-mudahan ingat bahwa kebahagiaan dan kemaslahatan anggota yang dipimpinnya merupakan tanggung jawab yang harus dilaksanakan sebagai amanat.

Temen saya malah bilang "Saya mau nyoba masak batu deh..mumpung beras di rumah juga udah habis dan saya lagi bokek...siapa tau ada Gubernur atau Walikota yang bawain beras buat saya..."


belum tau dia....

Read more »»

Friday, October 16, 2009

Melakukan yang benar tapi tidak populer atau yang populer tapi belum tentu benar..?

Sekarang kita sedang sering meilhat reality show yang seru di televisi, koran dan media informasi lain tentang upaya koalisi partai-partai politik yang semula bersebrangan arah dengan partai pemenang pemilu. Banyak yang berkomentar negatif, katanya itu tanda orang-orang yang haus kekuasaan dan berpotensi menyimpang. Tapi ada pula yang menanggapinya dengan biasa-biasa saja,katanya dalam politik hal itu biasa, apalagi kalau sudah soal berbagi jatah posisi Menteri di departemen yang "basah". Siapa sih yang menolah dikasih posisi nyaman dengan fasilitas yang berlimpah dan memungkinkan untuk menyejahterakan diri, keluarga dan kelompoknya. Itu katanya lho....Reality show yang lain yang tidak kalah serunya juga masalah persidangan mantan ketua KPK yang sekarang menjadi terdakwa kasus pembunuhan plus dugaan korupsi...hanya satu kata yang bisa disampaikan....SERU !!!!!


Semua pihak baik itu partai politik, pengamat politik, pimpinan KPK dan mantan-mantannya, Polri dan semua pihak yang meramaikan reality show ini mengklaim bahwa tindakan mereka lah yang benar dan tindakan serta anggapan orang lain yang salah dan keliru. Masing-masing mengedepankan parameter kebenarannya sendiri. Padahal parameter kebenaran di negara kita sudah jelas ada, berpegang pada hukum saja koq. Berpegang pada hukum pun kita terlebih dahulu berpegang pada kebenaran hakiki dari Tuhan yang disampaikan melalui agama. Susahnya, negara kita ini orangnya pintar-pintar sehingga semua punya penafsiran sendiri-sendiri tentang apa yang dianggap sebagai "benar".

Saya jadi ingat satu cerita lama :
Ada sekelompok anak kecil sedang bermain di dekat dua jalur kereta api. Jalur yang pertama adalah jalur aktif (masih sering dilewati KA), sementara jalur kedua sudah tidak aktif. Hanya seorang anak yang bermain di jalur yang tidak aktif (tidak pernah lagi dilewati KA), sementara yang lainnya bermain di jalur KA yang masih aktif.

Tiba-tiba terlihat ada kereta api yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Kebetulan Anda berada di depan panel persimpangan yang mengatur arah KA tersebut. Apakah Anda akan memindahkan arah KA tersebut ke jalur yang sudah tidak aktif dan menyelamatkan sebagian besar anak kecil yang sedang bermain. Namun hal ini berarti Anda mengorbankan seorang anak yang sedang bermain di jalur KA yang tidak aktif. Atau Anda akan membiarkan kereta tersebut tetap berada di jalur yang seharusnya?

Mari berpikir sejenak keputusan apa yang sebaiknya kita ambil.

Jumlah teman saya yang memilih untuk memindahkan arah kereta dan hanya mengorbankan jiwa seorang anak jauh lebih banyak daripada yang memilih untuk membiarkan KA lewat pada jalur yang aktif. Anda mungkin memiliki pilihan yang sama karena dengan menyelamatkan sebagian besar anak dan hanya kehilangan seorang anak adalah sebuah keputusan yang rasional. Namun sadarkah Anda bahwa anak yang memilih untuk bermain di jalur KA yang sudah tidak aktif, berada di pihak yang benar karena telah memilih untuk bermain di tempat yang aman? Namun kenapa dia harus dikorbankan justru karena kecerobohan teman-temannya yang bermain di tempat berbahaya.

Dilema semacam ini terjadi di sekitar kita setiap hari. Di kantor, di masyarakat, di dunia politik dan terutama dalam kehidupan demokrasi, pihak minoritas yang berada pada posisi yang benar seringkali harus dikorbankan demi kepentingan mayoritas. Tidak peduli betapa bodoh dan cerobohnya pihak mayoritas tersebut. Nyawa seorang anak yang memilih untuk tidak bermain bersama teman-temannya di jalur KA yang berbahaya telah dikesampingkan. Dan bahkan mungkin tidak kita tidak akan menyesalkan kejadian tersebut.

Seorang teman yang membaca cerita ini berpendapat bahwa dia tidak akan mengubah arah laju kereta karena dia percaya anak-anak yang bermain di jalur KA yang masih aktif sangat sadar bahwa jalur tersebut masih aktif. Akibatnya mereka akan segera lari ketika mendengar suara kereta mendekat. Jika arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka seorang anak yang sedang bermain di jalur tersebut pasti akan tewas karena dia tidak pernah berpikir bahwa kereta akan menuju jalur tersebut.
Disamping itu, alasan sebuah jalur KA dinonaktifkan kemungkinan karena jalur tersebut sudah tidak aman. Bila arah laju kereta diubah ke jalur yang tidak aktif maka kita telah membahayakan nyawa seluruh penumpang di dalam kereta. Dan mungkin langkah yang telah ditempuh untuk menyelamatkan sekumpulan anak dengan mengorbankan seorang anak, akan mengorbankan lagi ratusan nyawa penumpang di kereta tersebut.

Seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Abu Dzar Al Ghifari merupakan contoh orang yang berpegang pada kebenaran. Beliau berasal dari Ghifar (suatu suku di Arab yang terkenal sebagai suku perampok). Namun Abu Dzar tidak mengikuti kebiasaan sukunya dan malah termasuk golongan orang yang pertama memeluk Islam dan menyatakan terang-terangan bahwa ajaran Islam itu benar di depan Ka'bah sehingga beliau dianiaya secara beramai-ramai oleh kaum Quraisy.

Oprah Winfrey dalam buku Good Housekeeping menulis sebagai berikut Real integrity is doing the right thing, knowing that nobody's going to know whether you did it or not.

Berkaca pada tindakan serta pemikiran di atas bahwa melakukan hal yang benar itu tidak harus merupakan keputusan yang diterima dan diikuti atau didukung oleh orang banyak dan tidak harus diketahui oleh orang lain. Mustinya para pemeran reality show itu berfikir lagi, apakah tindakan dan keputusan mereka selama ini sudah benar sesuai amanat tanggung jawab mereka yang diatur oleh hukum dan agama atau jangan-jangan karena ada kepentingan lain di dalamnya. Tidak mudah memang mengambil keputusan seperti itu, karena pengambilan keputusan seperti itu harus dilandasi dengan hati yang ikhlas dan pemikiran yang jernih. Bagaimana mau mengambil keputusan yang benar kalau hatinya tidak ikhlas dan pikirannya tidak jernih...


Kita harus sadar bahwa hidup penuh dengan keputusan sulit yang harus dibuat. Dan mungkin kita tidak akan menyadari bahwa sebuah keputusan yang cepat dan populer tidak selalu menjadi keputusan yang benar.
Ingatlah bahwa sesuatu yang benar tidak selalu populer dan sesuatu yang populer tidak selalu benar.

Temen saya malah bilang "kamu sih ceritanya salah, coba rel kereta nya ada 3..."

lha.....

Read more »»

Wednesday, October 14, 2009

Mental persaingan (positif) orang Indonesia

Hasil bincang-bincang pagi dengan seorang sahabat dan senior cukup menggelitik hati saya untuk membuat tulisan sedikit. Berawal dari omong-omong tentang kenapa sih kita ini seolah-olah selalu kalah bersaing dengan negara-negara tetangga yang notabene sama-sama orang Asia Tenggara dan merdeka pada waktu yang tidak terlalu berjauhan. Mari kita lihat negara tetangga kita Singapura yang dengan suksesnya bisa menjadi salah satu negara yang hampir masuk dalam negara "kelas atas" atau mungkin sudah masuk pada kategori tersebut. Saya masih ingat beberapa dekade yang lalu negara kita yang tercinta ini dianggap sebagai negara yang kuat dan digadang-gadang akan segera masuk menjadi Macan Asia setelah Jepang, Korea Selatan dan Cina. Calon-calon macan itu termasuk di dalamnya adalah Singapura, Malaysia, Taiwan dan Indonesia. Setelah dua dekade lewat maka Singapura sudah mulai tumbuh taring dan kukunya sebagai macan, Taiwan dan Malaysia berkembang juga walaupun tidak terlalu cepat seperti Singapura, sementara kita dari semula sebagai anak macan bukannya tumbuh berkembang menjadi macan yang gagah dan merajai hutan, tetapi koq malah berubah menjadi anak kucing. Apa yang salah dengan kita?



Tentunya banyak faktor yang berpengaruh, namun perbincangan kami tadi pagi hanya sebatas mental bekerja dan bersaing orang Indonesia saja, itu pun tanpa buka literatur dan hanya berdasarkan pengamatan serta pengalaman kami saja.
Mental kerja orang Indonesia (pada umumnya) jauh berbeda dengan mental kerja orang Singapura (pada umumnya juga). Di Singapura ada istilah "kiasu". Istilah ini bagi sebagian besar orang Singapura menjadi motto hidup. Kiasu adalah bahasa Hokkian yang artinya takut kalah atau kalau kamu bisa maka saya pun bisa, pokoknya kalo anda bisa dapet saya juga harus dapat. Sebenarnya terminologi ini lebih digunakan untuk mengejek seseorang atas ketamakan atau kelicikan orang lain. Tapi di lain pihak mentality ini ada baiknya, saya kira Singapura bisa maju seperti sekarang ini karena kiasu mentality nya yang akan memacu orang untuk selalu mendapatkan hasil yang lebih baik dalam segala hal dibandingkan orang lain.

Walaupun efek dari motto ini di Singapura seringkali jadi keterlaluan. Ada cerita seorang teman yg berada di Singapura bahwa pada suatu siang dia dengan seorang temannya lagi sedang jalan di depan Centre Point di Orchard Rd, lalu ada antrean panjang, temennya temen saya (yg orang Singapore) langsung ikut antre tanpa tahu itu antrian buat apa, sehingga ditanyalah oleh temen saya "Why are you queuing up?" (Ngapain ngantre?) dia bilang, "know LEH, people are queuing up so must be good".. WHAT??? Weleh2x, ternyata mrk antre untuk beli koran, di dalam koran itu ada kupon diskon product tertentu, kalau nggak salah S$2 off, amit2x.

Dengan kiasu mentality ini orang Singapura saya perhatikan selalu mau berupaya lebih keras, berinovasi lebih banyak dan berani mengeluarkan kreativitas serta ngotot dalam memperjuangkan kebutuhannya agar bisa survive dan lebih baik dibandingkan orang lain. Pernah saya berbincang dengan seorang Mayor dari Singaporean Army tentang kiasu mentality ini, dia bercerita bahwa orang Singapura sangat menyadari bahwa mereka tidak memiliki sumber daya alam yang berlimpah sehingga untuk bisa bersaing dengan negara lain mereka harus mengoptimalkan brain resources yang mereka miliki.

Sekarang kita lihat bagaimana orang Indonesia. Kita negara yang diberkahi Tuhan dengan memiliki sumber daya alam berlimpah. Tapi, hal ini menyebabkan kita menjadi cenderung untuk malas, yang lebih parah lagi adalah kita cenderung malas berfikir. Di sebagian besar wilayah Indonesia kalau kita makan buah mangga maka selesai nya kita lempar itu biji mangga ke halaman, kita diamkan dan kita lupakan. Kemudian setelah 2 tahun kita sudah bisa makan mangga dari pohon mangga di halaman yang berasal dari biji yang kita buang begitu saja. Walhasil, kecenderungan bahwa tanpa bekerja keras pun kita sudah bisa mendapatkan hasil ini berakumulasi selama sekian abad dari berbagai kemudahan yang diberikan alam Indonesia sehingga kita menjadi malas berfikir dan malas bekerja.

Kalau menurut teman saya sih, di Indonesia kita tidak perlu berfikir soal bagaimana mengembangkan budi daya mangga juga sudah bisa makan mangga setiap hari, sementara di Singapura mereka harus berfikir bagaimana tanpa menanam mangga mereka bisa makan mangga setiap hari kalau perlu tanpa biaya juga.

James Gwee, seorang motivator yang lahir dan besar di Singapura, tetapi lebih dari 19 tahun tinggal di Indonesia dalam bukunya "Positive Business Ideas" bercerita mengenai kebiasaan-kebiasaan suku bangsa. Gwee membantah pendapat bahwa kultur orang Singapura lebih baik dari orang Indonesia. "Orang Singapura dan orang Indonesia memang beda, ya. Tetapi, keliru kalau yang satu lebih baik dari yang lain. Masing-masing punya kelemahan dan kekuatan. Kunci keberhasilan adalah mengoptimalkan kekuatan masing-masing, dan mendesain sistem dalam organisasi untuk meminimalisir kelemahan masing-masing. Harus disadari bahwa kultur, pembawaan, lingkungan, mempengaruhi tindakan dan kelakuan orang. Setiap kebudayaan itu berbeda-beda. Cara orang Cina mengasuh anak mereka berbeda dengan orang India. Anak-anak melihat contoh yang berbeda dari orangtua mereka. Orangtua mengajarkan nilai-nilai yang berbeda-beda pula. Sebagian orangtua mengatakan no venture no gain, tetapi yang lain bilang be happy and grateful with what you have".

Nilai-nilai yang berbeda berdampak pada cara berpikir anak muda, lalu kebiasaan hidup mereka di kemudian hari.
Berkaca pada pendapat tersebut maka kehebatan alam Indonesia seharusnya membuat kita berfikir dan bekerja untuk merawat dan mengembangkan menjadi lebih baik, namun yang terjadi pada sebagian besar masyarakat kita justru cenderung menjadikan kita terlena dan bermanja dengan kemudahan-kemudahan ini.
Setelah dunia berkembang dan perekonomian menjadi kapitalis serta terbuka kita baru menyadari ketertinggalan kita dibandingkan negara lain terutama dalam hal kemauan berfikir, bekerja, kreativitas dan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Walaupun demikian tidak ada kata terlambat, kita masih bisa mengejar dan bahkan melampaui bangsa lain untuk menjadi bangsa yang besar dan tumbuh sebagai Macan Asia. Yang penting adalah kemauan untuk berfikir dan bekerja lebih keras untuk mengembangkan kemampuan individu dan bangsa secara kolektif untuk mampu bersaing dengan bangsa lain.

Temen saya malah ngasih komentar "Kalau di Indonesia sih kalau kalah bersaing ya tinggal maen dukun aja..."

nah lho....


Read more »»

Wednesday, September 09, 2009

Beriman karena 3 tamparan...

Di jaman materialisme seperti sekarang ini sungguh tidak aneh bila ada orang yang tidak percaya kepada Tuhan karena menurut mereka Tuhan itu "tidak nyata"...

Hal ini menimpa juga terhadap seorang pemuda yg sebutlah bernama "A". Setelah menempuh pendidikan sarjananya di Amerika dan ditambah pengetahuannya tentang teori2 Marxisme maka pendapat dia tentang ketuhanan semakin kabur dan bahkan setelah pulang ke Indonesia dia berani untuk terang-terangan berdebat dengan siapa saja masalah ketuhanan. Namun seluruh anggota keluarga dan teman2nya yg diajak berdebat selalu tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan "A" sehingga dia semakin merasa jumawa dan benar tentang teori anti ketuhanannya itu. Namun ayahnya yang tidak rela melihat anaknya menjadi tidak bertuhan itu memanggil orang2 yang dianggap pintar soal agama, walaupun akhirnya orang-orang itu juga terdiam karena tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan si "A".


Namun, suatu hari muncul seorang Kiai yang sudah berumur dengan wajah tenang ke rumah "A", rupanya dia teman lama kakek "A" yang mendengar tentang permasalahan ini. "A" langsung menghujani sang Kiai dengan pertanyaan-pertanyaan.."Pa
k Kiai, kalau pak Kiai dapat menjawab pertanyaan2 saya maka saya akui bahwa atheisme itu salah dan bahwa Tuhan itu ada, tapi kalau pak Kiai tidak dapat menjawab pertanyaan saya maka sungguh kalian hanyalah kumpulan pembohong.."
Pak Kiai itu dengan tenang mempersilahkan "A" untuk bertanya...

"A" segera bertanya sbb: "Pertanyaan pertama : Apa buktinya Tuhan itu ada? Mana wujudnya? Tunjukkan pada saya bahwa TUhan itu ada....pertanyaan kedua, apa itu takdir? bagaimana membuktikan takdir itu benar-benar ada? semua itu kan ada hukum sebab akibat dan bukan karena takdir...buktikan bahwa takdir itu ada...pertanyaan ketiga, Tuhan menciptakan neraka berisi api untuk menghukum setan yang juga dari api, bagaimana setan bisa merasakan sakit kalau dia berbadan api dan dihukum dengan api..apakah Tuhan itu bodoh..? "

Tiba-tiba..Plaaaakkk....Pak Kiai itu menampar si "A"
tentu saja "A" kesakitan dan berteriak..Bapak ini gila..kenapa saya tiba-tiba ditampar..?..Ini kan sakit pak..

Pak Kiai menjawab "Itulah jawaban untuk pertanyaan pertamamu nak...coba tunjukkan pada saya rasa sakit itu..mana wujudnya rasa sakit..? tidak ada terlihat oleh saya..berarti kamu bohong ketika mengatakan pipimu sakit...padahal saya yakin kamu tidak bohong karena saya menampar cukup keras koq..." Lalu pak Kiai melanjutkan " Nak, Tuhan memang tidak terlihat oleh mata kita sebagai mahluk-Nya, namun hati kita dapat merasakan keberadaan Nya yang Maha Pemurah..demikian juga keimanan yang tidak dapat diukur secara fisik sebagaimana rasa sakit pada pipimu itu tidak dapat diukur oleh pengetahuan mu..

"A" bersungut-sungut..lalu berkata baiklah..bagaimana pertanyaan kedua saya..?

Tiba-tiba..Plaaaakkk....Pak Kiai itu menampar si "A" lagi..
tentu saja "A" kesakitan dan berteriak..Bapak ini gila..kenapa saya tiba-tiba ditampar lagi..?

Pak Kiai menjawab "Itulah jawaban untuk pertanyaan keduamu nak...pernahkah kamu berfikir atau menduga bahwa kamu akan saya tampar dua kali..? itulah takdir burukmu yang harus menerima tamparan dari saya..kamu bisa saja menghubungkan dalam sebab akibat, tapi takdir lah yang menentukan bahwa kita akan bertemu hari ini...

"A" semakin bersungut-sungut..lalu berkata lagi ..baiklah..bagaimana pertanyaan ketiga saya..?

Tiba-tiba..Plaaaakkk....Pak Kiai itu menampar si "A" lagi..
tentu saja "A" kesakitan dan berteriak..Bapak ini gilaaa..bener-bener gilaa...kenapa saya tiba-tiba ditampar lagi..?

Pak Kiai menjawab "Itulah jawaban untuk pertanyaan ketigamu nak...pipimu terdiri atas daging dan kulit..demikian juga tangan saya tersusun dari daging dan kulit...namun ketika pipimu dan tangan saya bertemu maka pipimu merasakan sakit kan..? Bila Allah menghendaki maka setan akan merasakan sakit dan tersiksa ketika berada di neraka walaupun neraka terbuat dari api dan setan pun terbuat dari api..

Masih adakah pertanyaan darimu Nak..? Pak Kiai bertanya sambil tersenyum...

Dengan rasa takut si "A" pun hanya menggeleng dan berfikir...mungkin memang saatnya bagi saya untuk belajar lagi tentang keimanan....


Selamat berpuasa dan belajar meningkatkan keimanan...

Read more »»

Monday, March 23, 2009

Maaf, kamu gak kesentuh...

Pada kesempatan ini saya cuman mau minta maaf, karena kesibukan saya, jadi saya gak sempet nyentuh kamu cukup lama....padahal banyak hal menarik yang ingin saya tulis...tapi ya gimana ya...sibuk bangeeet....jadi maaf deh yaa....

Read more »»